>>>
you're reading...
Hankam & Militer

Nasib Etalase Negeri, Nasionalisme dan Sebuah Janji

Letak Pulau Miangas

Kembali memanas—namun belum menjadi kompor mbleduk— pembahasan patok perbatasan dengan negara sebelah, Malaysia. Caplok mencaplok tapal batas di tanah Kalimantan Barat nun jauh di mata. Camar Wulan dan Tanjung Datuk kalau tidak salah nama wilayah yang diberitakan dicaplok. Padahal enakan telur ceplok mata sapi daripada urusan caplok- mencaplok tapal batas, menurut perut lapar saya.

Lagi-lagi yang menjadi si kambing hitam, siapa lagi kalau bukan Malaysia. Padahal hemat saya semua terjadi hanya karena Indonesia kalah cerdik dibanding tetangga sebelah. Malaysia dengan licik cerdik memanfaatkan keterbelakangan pembangunan infrastruktur di perbatasan oleh pemerintah pusat. Belum lagi kesejahteraan yang minim di sana. Baik masyarakat dan juga aparat TNI nya. Inilah celah yang dimanfaatkan oleh pak Cik sebelah. Yang bodohnya, pemerintah kita terus saja tidak mau belajar dari kejadian-kejadian yang sudah-sudah. Pada asyik bisnis “MLM” korupsi sepertinya.

Pulau terluar, etalase negeri yang terabaikan

Jauh dari Camar Wulan / Damar Bulan. Ada pulau yang kalau diabaikan pemerintah akan bergabung secara sukarela ke negara sebelah kita juga, Filipina.

Miangas nama pulau tersebut. Jujur saya belum sekalipun meninggalkan jejak di sana. Boro-boro meninggalkan jejak, tahu gambaran samar pulau tersebut saja baru beberapa minggu lalu saat membaca buku Meraba Indonesia. Membaca buku tersebut membuat saya ikut meraba-raba kondisi terkini pulau tersebut. Nama yang kalah tenar dibanding Sipadan dan Ligitan yang sekarang sudah menjadi milik tetangga sebelah.

Miangas merupakan pulau paling utara dari Indonesia. Masuk wilayah Sulawesi Utara. Lebih dekat dengan Cape San Agustin, Filipina Selatan dibanding dengan Bitung atau Manado. Nama Miangas pernah menjadi jingle Sby saat kampanye pemilihan presiden tahun 2009, untuk periode ke-2 kepemimpinannnya.

“Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote”  demikian bunyi jingle tersebut.

Saat itu SBY menjanjikan dibangunnya gudang Bulog, Puskesmas juga bandar udara dan akan berkesempatan untuk berkunjung ke sana. Sekedar untuk meningkatkan moril pasukan TNI penjaga pagar terdepan bangsa dan penduduk Miangas.

Janji setengah palsu, ataukah?

Mercusuar di pulau Miangas. Pertanda Indonesia ada

Beberapa tahun berlalu. Memang benar, gedung itu berdiri seperti yang telah dijanjikan. Gudang bulog berdiri sesuai janji. Puskesmas terbangun juga sesuai janji. Kecuali bandar udara yang hingga tulisan ini saya corat-coret belum ter-realisasikan. Alasannya seperti biasa “kendala masalah pembebasan lahan”

Lantas apa yang terjadi?

Gedung-gedung itu terbengkalai seolah tiada bertuan. Puskesmas kosong tanpa peralatan medis di dalamnya. Kaca pecah. Rumput tumbuh tanpa aba-aba, tiada terawat. Gudang Bulog mengalami nasib serupa. Nampak ompong tanpa aktifitas di dalamnya. Hanya serakan beberapa bekas botol miras. Gedung itu berdiri namun tidak bisa  berdikari. Hanya menjadi sebentuk simbol atas janji manis sang presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Sang RI satu pun tidak pernah nongol batang hidungnya di sana.

Sepertinya memang bukan itu yang dibutuhkan mereka, penduduk Miangas. Ada yang sangat dibutuhkan mereka. Sarana transportasi yang manusiawi, sebuah bandara. Dengan adanya bandar udara maka jarak tempuh dari dan ke Miangas mampu dipangkas. Saat ini, waktu yang dibutuhkan dari Manado sekitar dua hari pelayaran. Ini waktu tercepat yang bisa ditempuh dengan kapal motor carteran. Biasanya perlu waktu empat hari hingga seminggu, dan ini waktu normal yang dibutuhkan dengan kapal perintis. Dibandingkan ke Filipina, hanya butuh sehari pulang pergi. Selemparan upil.

Menjadi sangat wajar bila penduduk Miangas lebih memilih Filipina untuk melakukan transaksi ekonomi dibanding dengan negerinya sendiri.

Nasionalisme ada bukan karena janji

Lantas, apa kesamaan Sipadan, Ligitan, Miangas dan Camar Wulan?

Mereka sama-sama terabaikan oleh kita yang enak-enakan di Jawa dengan berjibum fasilitas yang ada. Maaf ini fakta. Padahal kita dan mereka sama-sama mempunyai tulang putih dan merah darah, Indonesia. Tidak ada beda. Mungkin hanya kesempatan yang membedakan nasib kita dengan mereka.

Lumrah jika ada kemarahan dalam hati terdalam mereka. Lumrah bila mereka akhirnya pasrah dengan janji yang ada. Janji yang menina bobokan mimpi dan harapan dalam peraduan semu. Tapi sampai kapan?

Menunggu mereka sadar dan teriak “kami ikut Malaysia saja!! kami ikut Filipina saja!! selamat tinggal Indonesia!!”

Menunggu mereka tersadar kalau faktanya bergabung dengan negara sebelah lebih menjamin masa depan anak cucu mereka. Menunggu mereka tersadar bahwa pilihan itu adalah pilihan paling tepat satu-satunya. Karena mereka tahu, pemerintah Indonesia tidak memberikan alternatif pilihan lainnya.

Jangan! saya tidak ingin itu yang saudara kita pilih.

Hanya janji dalam pepesan kosong yang sudah basi. Hanya membuat patok – patok bercat merah dan putih. Hanya dengan mengibarkan bendera yang telah pudar warna merah dan lusuh warna putihnya. Jangan harap nasionalisme tumbuh dari sebuah patok. Jangan meminta lebih kepada mereka hanya gara-gara dikibarkan bendera dua warna, sang saka merah putih di halaman rumah mereka. Itu bukan solusi.

Nasionalisme itu masih ada. Saya yakin itu. Mereka telah buktikan dengan tetap setia memilih ibu pertiwi sebagai pijakannya. Lantas apa yang bisa kita beri agar rasa itu tetap tebal di dada mereka. Para penghuni etalase-etalase negeri kaya ini? Kesetaraan, Itu yang mereka pinta.

Satu lagi…jangan pernah berani pertanyakan rasa nasionalisme itu  di depan muka mereka.

Foto Mercusuar dari sini: Miangas.multiply
Advertisements

About Tototapalnise

Rakyat Indonesia yang cinta hati, jiwa dan raga untuk bangsanya.

Discussion

One thought on “Nasib Etalase Negeri, Nasionalisme dan Sebuah Janji

Tinggalkan pesan :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 10,089 Ciluk baaa!!

Ragam Tulisan

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Alexa Certified Site Stats for indonesiakusociety.wordpress.com
%d bloggers like this: