>>>
you're reading...
Ekonomi & Kewirausahaan

Pilih Mana, KW atau Original Produk Anak Negeri?

Louis Vuitton, Barang mahal nih :p

Barusan baca artikel disini, hehehe, saya tersenyum simpul. Karena saya mengalaminya sendiri. Bukan berarti saya punya pengalaman seperti ibu – ibu di dalam artikel tersebut, yang tasnya sampai disita dan dihancurkan di depan mata saat mendarat di bandara internasional. Malunya kagak ketulungan kali ya :p

Saya beberapa bulan yang lalu kebetulan pernah membeli tas palsu — kalau di Indonesia dikenal dengan istilah KW — pada seorang teman yang punya usaha dibidang retail tas – tas import KW. Mana saya belinya dua biji sekaligus. Insya Allah lain kali saya tidak akan membelikan seseorang dengan barang KW, meskipun KW super..hehehehe. Ini pengalaman saya..maaf ya 😀

KW = Palsu, ah yang benar?

Ngomongin masalah istilah KW. Sebenarnya itu hanya istilah untuk sedikit meringankan “dosa”, daripada menyebutnya dengan istilah yang baku yaitu palsu. Padahal kalau menyangkut barang ber-merek, yang ada cuma dua jenis di dunia ini. Asli alias original atau palsu alias imitasi alias tiruan.

Kata KW sendiri sepertinya sebuah singkatan yang merujuk pada kata kualitas/kwalitas/kuwalitas. Kebanyakan istilah KW dipakai oleh pedagang level eceran atau retail untuk menutupi rasa berdosanya menjual produk palsu kepada konsumennya. Sedangkan untuk pedagang level distributor kemungkinan ada namun sangat kecil.

Ini KW apa Ori, coba tebak

Dari KW 1 hingga KW 3. Dari KW A hingga KW AAA. Sampai ada istilah KW super – bahan, jahitan sangat mirip dengan aslinya. Namun tetap saja, apapun KWnya saya berani jamin itu adalah palsu. KW super sekalipun.

Kok bisa? Ya bisa… tidak mungkin sebuah merek produk dengan jenis yang sama, tipe sama namun punya kualitas berbeda. Gampangnya, misalkan Honda mengeluarkan produk dengan tipe bebek dengan nama Supra. Maka marketing Honda untuk menyasar segala lapisan, dia tidak mengeluarkan Supra KW 1, Supra KW 2. Namun yang ada dipasaran adalah, Supra Fit, Supra X CW, Supra X PGM 1 dan lainnya. Sama – sama Supra namun berbeda tipe. Paham kan?

Sebuah Peluang Merek Lokal

Baiklah, daripada ribut ngomongin istilah KW. Saya rasa lebih bijak bila kita melihat terciptanya sebuah peluang untuk industri tas tanah air pada kasus di atas. Industri dengan kepercayaan diri memasang nama merek lokal pada produk yang dihasilkannya. Itu yang diharapkan.

Melihat demikian ketatnya pembatasan dan pemberantasan barang – barang palsu di luar negeri sana, tidak salah bila hal itu juga akan berlaku di tanah air. Sulit memang. Lha di luar negeri saja yang namanya pemalsuan hingga saat ini terus terjadi, terutama di China. Ironisnya lagi, barang – barang KW yang beredar di Indonesia bersumber dari China. Sulit, tapi bisa, selama pihak bea cukainya tidak lemah dengan amplop bawah meja tentunya. Nah disinilah peran industri dalam negeri bisa berbicara lebih.

Berbicara mengenai merek tas wanita lokal yang udah ternama ada yang bisa kasih saya masukan? sepertinya belum ada. Prihatin seharusnya kita. Padahal bahan baku di kita melimpah. Dari kulit domba garut, Sapi sampai kambing ada. SDM juga banyak, murah lagi. Tapi tidak murahan.

Merek Lokal Berkualitas Interlokal

Ambil contoh tas merek Eiger — memang bukan tas wanita sih. Saya ambil contoh produk ini memang karena sudah terbukti kualitasnya. Dari SMP saya kenal produk ini dan sampai saat ini saya masih setia menggunakannya.

Nama mereknya emang rada kebarat-baratan, diambil dari nama gunung di Eropa sana. Tapi jangan tertipu dengan nama, ini produk asli dalam negeri. Tepatnya hasil kreatifitas orang Bandung, Jawa Barat.

Itu dari jajaran tas dan perlengkapan gunung. Masih ada nama merek-merek lain yang kualitasnya boleh diadu, semisal sepeda gunung merek Polygon. Jangan salah itu asli produksi Sidoarjo lho. Dan saat ini sudah merambah ke Asia. Satu lagi jangan lupa J-CO, lokal punya lho. Enak lagi 😀

Bagaimana Caranya?

Belajarlah sampai ke negeri China, demikian Rosul pernah berpesan kepada umatnya. Tidak usah heran bila produk China membanjiri Indonesia dan dunia saat ini. Dari Garam hingga Cangkul. Dari mainan anak hingga komputer. Semua made in China.

Meniru dari yang asli. Iya, mereka awalnya meniru produk asli. Dipelajari dan diciptakan produk yang sama persis namun berbeda kualitas dengan harga miring. Jadinya ya produk KW seperti diatas. Namun kita bisa juga mencontoh tahapan belajar yang dilakukan mereka.

Contohlah produk yang sudah terbukti dan terjamin nama besarnya. Pelajari bahan – bahannya. Dari kulit apa, bagaimana jahitannya, memakai benang apa dan bagaimana pemasarannya. Ikuti model terbarunya, namun jangan sama persis. Buatlah nama produk dengan  merek yang menjual. Ya semisal Eiger atau Polygon tadi.

Setelah produk lokal mendapat tempat di hati konsumennya. Jangan lupa untuk terus menjaga kualitasnya — ditingkatkan itu perlu, harga jualnya dan ini yang penting, inovasi terus. Jangan stagnan dengan model yang itu – itu saja. Berkreasilah.

Tadi yang pertama. Kedua, dukungan nyata dari pemerintah. Jangan karena lobi-lobi untuk memperkaya diri, maka para pemegang keputusan rela menjual kemakmuran bangsa demi kemakmuran bangsa lain. Kasus terbaru ya itu tadi..impor garam.

Kualitas merek ini boleh diadu

Saatnya pemerintah melindungi industri dan pasar dalam negeri dengan tindakan nyata. Ingat! sekarang sudah jamannya perdagangan bebas. Kalau tidak ada niat baik dari pemerintah, bisa dipastikan kita akan menjadi negara konsumen untuk selamanya. Kapan majunya coba? Kaya sih kaya, untuk golongan tertentu. Tapi tidak produktif sama sekali. Para industri rumahan ya siap-siap gulung tikar.

Ketiga. Nah ini tugas kita bersama termasuk saya. Jangan malu memakai produk dalam negeri, malah seharusnya kita bangga memakainya. Contoh saya. Sepatu saya memakai produk Cibaduyut. Celana, dulu kebanyakan produk Eiger. Namun karena sudah tidak muat ya memakai merek aneka nama saat ini. Baju juga demikian, produk – produk lokal tak bermerek 😀

Jangan cinta mati dengan branded, tapi cintailah keoriginalitas sebuah produk. Cintailah produk dengan merek asli, tidak numpang tenar merek dan model lain. Tidak salah kita bergaya dengan merek ternama keluaran Paris. Bila mampu siapa yang boleh larang? Namun kalau tidak mampu, ya cukup produk – produk dalam negeri. Fungsinya sama dan sama-sama bisa buat gaya kok.

Buang gengsi demi strata sosial. Tidak perlu bergaya ala selebritis. Tidak ada salahnya kita tampil dengan siapa kita sebenarnya. Cita rasa nasional yang mendunia, karena kita membeli dan percaya memakainya…demikian idealnya.

Artikel “Hati- hati membawa tas bermerek palsu” / Eiger / Polygon/

Advertisements

About Tototapalnise

Rakyat Indonesia yang cinta hati, jiwa dan raga untuk bangsanya.

Discussion

4 thoughts on “Pilih Mana, KW atau Original Produk Anak Negeri?

  1. oow gtu tha….brarti beli tas nya bisa di ulang lg dong…wekekekek…:P

    Posted by Me | September 15, 2011, 8:42 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Pilih Mana, KW atau Original Produk Anak Negeri? | SALAM EQUALITY - September 16, 2011

Tinggalkan pesan :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 10,119 Ciluk baaa!!

Ragam Tulisan

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Alexa Certified Site Stats for indonesiakusociety.wordpress.com
%d bloggers like this: